Dulu ketika saya duduk di bangku sekolah dasar, saya adalah anak yang kurang rajin untuk belajar. Jika ada PR atau ulangan, barulah saya belajar. Dahulu, saya hanya akan rajin belajar dengan pelajaran yang saya sukai, Yaitu mata pelajaran kesenian Jakarta,olahraga, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan IPS, saya selalu mendapatkan nilai sempurna pada mata pelajaran tersebut. Mata pelajaran pokok yang dijadikan sebagai bahan untuk ujian nasional, seperti matematika. saya kurang menyukainya, sehingga saya kurang serius untuk belajar pada mata pelajaran tersebut. Bukan saja karena saya kurang menyukainya, tetapi karena pelajaran tersebut memang agak sulit untuk dimengerti dan dipahami pada setiap bahasannya. Jika ingin mengerti dan memahami, harus belajar dengan sungguh- sungguh dan latihan secara terus- menerus. Mempelajari matematika harus sering- sering latihan, menghafal rumus dan menjawab soal. Seperti Peribahasa, Ulah Bisa Karena Biasa, karena sering berlatih dan belajar menjawab soal terus menerus maka pasti akan lebih mudah untuk dipahami. Ketika saya mencoba berlatih menjawab soal- soal, hanya satu soal saja yang dapat saya jawab, soal- soal yang lain saya tidak dapat menjawabnya, maka saya harus bertanya kepada salah seorang teman saya yang pintar matematika, tetapi saya masih kurang mengerti dan saya tidak ingin mencari tahu lagi bagaimana caranya kepada teman- teman saya yang lain, Mungkin karena memang dari awal saya kurang menyukai pelajaran tersebut dan saya memang masih banyak bermainnya bersama teman- teman dibandingkan untuk belajar matematika. Pada saat itu belajar adalah nomor sekian, bermain lah yang nomor 1. Maklumlah karena saat itu, saya masih duduk dibangku sekolah dasar, saya belum mengerti akan pentingnya kegunaan suatu pelajaran bagi masa depan, yang saya tahu adalah bermain dan belajar dengan mata pelajaran yang saya sukai.

Ketika saya naik ke tingkat sekolah menengah pertama, pelajaran yang saya sukai dan saya tidak sukai berubah. Saya menyukai mata pelajaran biologi, tata boga, komputer, dan bahasa Indonesia. Sama seperti yang dulu, saya kurang menyukai mata pelajaran matematika. Mata pelajaran yang saya tidak sukai pun bertambah, yaitu mata pelajaran bahasa Inggris, fisika dan olahraga. Dulu memang saya menyukai mata pelajaran olahraga, namun karena olahraganya semakin berat dan jarang ada permainannya, hanya berlari keliling lapangan berkali- kali dan itu membuat saya menjadi sangat membenci pelajaran olahraga. Sebenarnya saya suka pelajaran olahraga, namun saya suka jika bentuk pelaksanaannya dengan permainan seperti bola basket, sepak bola, bola kasti, badminton, dan lari estafet memberi tongkat ke pada teman satu kelompok, yang duluan sampai di garis finish maka dialah yang menang.

Pada saat saya duduk di Sekolah Menengah Pertama memang mata pelajarannya lebih sulit. Maka mata pelajaran yang tadinya saya sukai pun menjadi tidak suka. Secara Pribadi Saya tidak banyak berubah, masih saja seperti anak-anak, masih banyak bermain, baik main game , nonton film kartun dan belum berkonsentrasi penuh dengan pelajaran.

Setelah lulus dari Sekolah Menengah Pertama saya melanjutkan ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Di SMK mata pelajarannya bertambah sulit ,tapi saya tidak banyak berubah, masih saja seperti anak kecil, masih banyak bermain, baik main game , nonton film kartun , dan belum berkonsentrasi penuh dengan pelajaran.

Saya diajarkan untuk belajar mandiri dan diharapkan jika lulus nanti saya bisa langsung mendapatkan pekerjaan, maka saya dimasukkan ke sekolah menengah kejuruan (SMK) oleh ibu saya.

Pada saat itu, pertama kalinya saya mengenal cowok dan handphone. Maka saya pun tidak dapat berkonsentrasi dengan pelajaran sepenuhnya. Yang saya lakukan terus menerus bermain handphone dan handphone, mulai dari bermain game, dan smsan . Karena saya sangat terpaku dengan handphone dan smsan, maka saya kurang bersosialisasi dengan teman- teman sekolah saya, teman- teman di tempat kursus dan teman- teman di lingkungan masyarakat sekitar . Saat itu saya sangat tertutup dan juga kurang dapat berkomunikasi dengan orang tua saya dengan baik, karena mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing- masing.

Nilai- nilai pelajaran saya pun pada saat itu hanya pas- pasan. Motivasi untuk belajar tidak ada karena berbagai macam hal. Ternyata lingkungan sekitar kita menjadi pengaruh penting dalam memotivasi diri untuk belajar dan menjadi seseorang yang lebih maju.

Saat ini, setelah saya melewati berbagai macam hal, saya mulai mengerti dan memahami akan pentingnya masa depan yang lebih baik. Masalah percintaan memang saya kurang beruntung, namun pengalaman berpacaran walaupun hanya beberapa bulan menjadi pelajaran buat saya untuk dapat lebih mengerti dan memahami sifat orang lain. Dari situ saya mulai bangkit dan mengerti tentang tanggung jawab dan beban saya sebagai seorang anak tunggal bahwa saya harus bisa membahagiakan orang tua dan orang- orang disekitar saya yang saya sayangi.

Ketika saya melihat orang tua berjuang menafkahi anaknya, mereka sangat tulus, perjuangan dan kasih sayang mereka tak akan pernah berhenti. Yang mereka inginkan adalah agar anaknya bisa menjadi anak yang sholehah, berguna bagi keluarga dan lingkungannya, berguna bagi agama, nusa, dan bangsanya, dapat sukses dalam karier, cita-cita dan cinta , dapat membentuk keluarga yang sakinah, mawadah wa rohmah lebih tepatnya sukses dunia akhirat.

Maka kita sebagai generasi muda penerus bangsa, belajarlah sedini mungkin. Tuntutlah ilmu sebanyak- banyaknya. Karena masa muda adalah masa untuk belajar akan banyak hal. Manfaatkan waktu sebaik baiknya dan lakukanlah hal positif sebanyak mungkin untuk dapat menambah ilmu yang bermanfaat sebanyak- banyaknya. Belajar diwaktu kecil bagai mengukir diatas batu, belajar sesudah dewasa bagai mengukir diatas air. Belajar di masa muda masih fresh, cepat mengerti, lebih gesit dan aktif ,lebih konsentrasi, jika belajar sudah tua daya ingatnya sudah berkurang tidak seperti masa muda , cepat lupa, cepat lelah, daya ingat banyak berkurang, dan kurang konsentrasi karena sudah banyak yang difikirkan.

Tidak hanya menuntut ilmu, kita sebagai generasi muda juga harus pintar bersosialisasi dengan teman- teman sekolah , teman kuliah, teman kerja, dan masyarakat lingkungan sekitar. Karena kita tidak dapat hidup seorang diri, kita membutuhkan bantuan dari orang lain, untuk dapat saling membantu, saling menolong, saling memberikan informasi, bertukar pikiran atau sharing dan lain- lain. Dengan bersosialisasi kita bisa mendapatkan pekerjaan, karena diberi informasi oleh salah satu teman kita tentang pekerjaan tersebut dan sebagainya. Dan orang yang rajin bersilaturahmi, maka akan dilapangkan rezekinya serta dipanjangkan umurnya oleh Allah SWT. Ilmu itu tidak kita dapatkan dari buku pelajaran saja, tetapi juga dari bersosialisasi dengan masyarakat, teman- teman, orang tua dan lain-lain. Hal lain yang juga penting yaitu menimba pengalaman berharga sebanyak mungkin karena pengalaman adalah guru yang sangat berharga.