Ketika saya duduk di sekolah dasar, yaitu tepatnya kelas 5 SD. Saya mengikuti kursus menari tradisional di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), tidak jauh dari rumah saya. Saya belajar menari tradisional di anjungan Jawa Tengah.

Sebelum saya mengikuti kursus menari, saya sangat bingung memilih kursus tari apa yang harus saya ikuti, karena sangat banyak jenis- jenis tari tradisional menarik hati saya yang berasal dari Indonesia. Wilayah Indonesia terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil, banyak suku bangsa , budaya, agama , beragam adat istiadat yang sangat beraneka ragam dan unik tumbuh dan berkembang di Indonesia sejak jaman dahulu kala terpelihara dengan baik oleh nenek moyang kita.

Pada saat itu, yang menarik hati saya yaitu tari bali, tari betawi ,dan tari jawa tengah kemudian saya memutuskan pilihan ke 3 yaitu tari jawa tengah karena leluhur saya berasal dari jawa tengah, saya ingin lebih mengenal budaya orang tua saya maka saya memilih tarian dari jawa tengah.

Perasaan saya sangat gembira ketika itu, karena saya sangat suka dengan menari. Saya ditemani ibu saya untuk mendaftar dan kami diberitahukan kapan kursus dapat mulai berlangsung. Kursus diadakan setiap hari senin, Rabu, dan jumat waktunya pukul 13.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB atau jam 3 sore. Setiap kali saya kursus, tidak dikenakan biaya masuk TMII karena saya mempunyai kartu kursus anggota tari di anjungan jawa tengah.

Sepulang dari mendaftar kursus menari, saya ditemani ibu saya berbelanja di sebuah toko fashion di TMII. Saya membeli selendang, stagen, dan kain batik untuk keperluan saya mengikuti kursus menari. Esok harinya kursus menari pun dimulai, karena baru pertama kali menari, badan saya agak kaku dan saya mencoba mengikuti gerakan- gerakan dari sang pelatih tari. Hari pertama saya kursus, saya langsung mendapatkan dua orang teman wanita sebaya .

Mereka sangat baik, tetapi mereka berdua level menarinya sudah di tingkat atas, karena mereka sudah menari selama 1 tahun, sedangkan saya baru masuk (anak baru) jauh sekali dari tingkat level saya. Hari demi hari saya mengikuti les tari, dari mulai tari gambyong, yaitu tari untuk menyambut tamu, tari serimpi dan tari boneka. Dalam menari harus pintar menghafal setiap gerakan- gerakan yang diajarkan oleh pelatih, sangat sulit memang makanya kita harus sering- sering untuk berlatih agar gerakan- gerakan tersebut dapat dihafal dengan sendirinya.

Setelah beberapa bulan saya mengikuti kursus, ada sebuah festival tari yang diadakan oleh pemerintah. Saya dan teman- teman saya pun diundang untuk mengikuti acara tersebut. Kami pun berlatih dan berlatih keras agar mendapatkan hasil tarian yang sangat bagus dan indah untuk dilihat. Menjelang festival tiba, hanya beberapa hari lagi, saya diberhentikan oleh ibu saya untuk menari karena ketiadaan biaya , dengan perasaan kecewa dan sedih terpaksa saya tidak dapat mengikuti festival tari tersebut. Tetapi saya sudah bangga dan senang, saya pun mendapatkan pengalaman dapat menari bersama teman- teman untuk ikut berpartisipasi dalam mempertahankan salah satu kebudayaan Indonesia.

Walaupun saya tidak dapat mengikuti tari di festival tersebut, saya tetap merasa senang karena saya mengikuti tari yang ada di sekolah saya bersama teman- teman sekelas saya yang sudah dibagi menjadi beberapa kelompok. Pada saat itu saya menari tarian dari provinsi sumatera barat, yaitu tari piring. Sangat susah memang, agar piringnya tidak jatuh maka saya dan teman- teman saya menempelkan lem ke tangan kita masing- masing. Hi … hi.. lucu rasanya .

Karena pengalaman tersebut diatas saya berani tampil menari di panggung perayaan 17 Agustus an atau Hari Kemerdekaan Indonesia di lingkungan rumah kami dengan ditonton orang banyak beberapa kali.

Kita harus dapat melestarikan kebudayaan Indonesia. Karena dengan menari itu dapat mengaktualisasi diri, dengan menari kita dapat lebih percaya diri, berani tampil dihadapan orang banyak, dapat memperbanyak teman dan kita sudah ikut berpartisipasi dalam melestarikan kebudayaan Indonesia.