Sewaktu saya duduk di bangku sekolah dasar, saya pernah mengikuti kegiatan arisan bersama teman- teman saya. Teman- teman saya yang laki- laki tidak diperkenankan untuk ikut arisan, khusus perempuan saja. Ketika itu saya tidak mengerti apa itu arisan. Yang saya tahu adalah saya diharuskan menyetorkan sejumlah uang yang sudah ditentukan secara rutin, yaitu perhari, perminggu, ataupun perbulan. Dan ketika sesi pengocokan arisan, yang namanya keluar maka dialah yang mendapatkan uang.

Sekolah saya jaraknya tidak jauh dari rumah, yaitu sekitar 1km. Karena sekolah saya tidak jauh, maka ketika jam istirahat saya sering mengambil makanan dirumah dan jika ada tugas atau buku yang tertinggal, saya dapat pulang untuk mengambilnya. Di tingkat sekolah dasar saya sangat mempunyai banyak waktu untuk bermain bersama teman- teman, mulai dari bermain kelereng, bermain bekel, bermain karet, congklak, nenek grondong, benteng, petak umpet, bermain bola kasti, bermain raket, bermain bola basket dan Kegiatan ekstrakurikuler yang saya ikuti, yaitu bermain seruling, menari, dan menyanyi. Berbeda dengan saya sekarang ini, saya tidak mempunyai banyak waktu untuk mengikuti kegiatan tersebut karena aktivitas yang sangat padat dan juga karena saya sudah beranjak dewasa. Sangat sulit membagi waktu untuk bermain bersama teman- teman maupun mengikuti kursus seperti dulu lagi.

Arisan adalah kegiatan menyetor sejumlah uang yang sudah ditentukan secara rutin kepada bendahara arisan. Kemudian di waktu yang telah ditentukan, diadakan pengocokan arisan untuk mendapatkan seorang yang pertama dan seterusnya bergiliran mendapat uang arisan. Arisan bukanlah mendapat sejumlah uang secara tiba- tiba dalam jumlah besar dan kita menjadi untung, tetapi arisan itu adalah seperti halnya kita menabung, jika kita mendapat arisan lebih dahulu, maka uang itu adalah uang milik kita ditambah uang milik orang lain, artinya kita masih berhutang dengan orang lain. Apabila kita mendapat arisan paling akhir artinya uang tersebut adalah milik kita sepenuhnya tanpa harus mengembalikan.

Ketika di bangku sekolah dasar, saya dan beberapa teman saya mengadakan arisan, memang sungguh lucu melihatnya, anak- anak sd atau anak- anak dibawah umur yang masih bau kencur belum mengerti apa- apa sudah mengadakan arisan, seperti ibu- ibu saja. Pada saat itu yang mengikuti arisan adalah sekitar 7 orang, saya hanya menjadi anggota, dan salah satu teman saya yang menjadi bendaharanya. Saat itu dikenakan setoran uang sejumlah lima ratus rupiah (Rp. 500) perharinya dan di adakan pengocokan arisan setiap 2 minggu sekali. Hari demi hari saya selalu setoran kepada teman saya, dan minggu per minggu pun satu per satu teman saya mendapat arisan, hanya saya yang tersisa yang belum mendapatkan arisan. Dan tiba- tiba teman- teman saya tidak mau lagi menyetor uang arisan karena mereka sudah mendapatkan uang arisan. Mereka bilang “ah aku udahan ah arisannya, aku tidak mainan lagi”. Dan Arisan pun berhenti secara tidak jelas, nasib saya terkatung- katung, “bagaimana ini ? saya belum dapat” ujar saya dalam hati. Perasaan sedih dan kecewa membayangiku, merasa di zhalimi, di bohongi, di curangi oleh teman- teman. Saat itu saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Sepulang sekolah dengan wajah cemberut dan sedih saya cerita kepada ibu saya, dan ibu saya bilang sudahlah jangan bersedih ikhlaskan saja biar allah yang akan mengganti uangnya suatu saat nanti dengan yang lain. Dan pada saat itu pula, saya bertanya kepada ibu saya tentang apa itu arisan, ibu saya menjelaskan dan saya baru mengerti apa itu arisan. “Ya sudahlah “ ujar saya dalam hati. Saya tidak akan dendam kepada teman- teman saya, saya akan mencoba ikhlas dan berpikir positif bahwa allah akan mengganti dengan yang lain suatu hari nanti.

Dalam pelajaran ini, saya akan menjelaskan bahwa agama dalam masyarakat itu sangat penting. Dengan adanya agama, maka kita tidak akan berbuat jahat terhadap orang lain, tidak jujur atau menipu orang lain, tidak adil terhadap orang lain, menzhalimi orang lain dan perbuatan buruk lainnya. Karena semua itu dilarang oleh agama.

Agama, asal katanya dari A dan Gama. A artinya tidak, dan gama artinya kacau. Jadi agama artinya tidak kacau. Dimana ada manusia disitu ada yang disebut aturan, norma, dan tata hukum untuk mengatur sendi- sendi kehidupan yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Maka seiring dengan adanya perkembangan masyarakat, sejak itu pula agama ada, sebagai pedoman hidup bagi manusia untuk mengatur kehidupan manusia bagaimana harus bersikap, beribadah untuk keselamatan dunia dan akhirat serta agama mengatur mana yang baik atau boleh dilakukan dan mana yang tidak baik atau tidak boleh dilakukan.

Tanpa agama suatu masyarakat akan kacau balau, karena tanpa adanya aturan yang mengatur, masyarakat akan bertindak sesuai dengan keinginannya sendiri. Jika seperti itu, maka akan terjadi kekacauan yang sangat luar biasa.

Agama dan ilmu pengetahuan saling berhubungan. Yaitu agama diibaratkan sebagai pelita atau penerang sedangkan ilmu adalah kekuatan. Agama tanpa ilmu akan lumpuh. Ilmu tanpa agama akan buta. Maka tuntutlah ilmu sebanyak- banyaknya dan Jadikan agama sebagai pedoman hidup dunia dan akhirat kita.

Demikian juga masyarakat tanpa agama, seperti jaman jahiliyah dahulu, orang tua membunuh anak perempuannya hidup- hidup, karena merasa malu mempunyai anak perempuan, mabuk-mabukan, ganti- ganti pasangan/ istri, saling membunuh dan lain sebagainya. setelah agama datang, tatanan kehidupan dibenahi untuk kebaikan umat manusia.