Ketika saya duduk di bangku SMK, saya pernah melakukan survey bersama teman saya kerumah- rumah warga di daerah jawa barat, yaitu di desa tugu. Survey dilakukan untuk mengetahui perkembangan teknologi atau internet di suatu desa. Sebelum masuk ke dalam cerita, saya akan memperkenalkan terlebih dahulu tentang profile sekolah saya.

Saya bersekolah di SMK Negeri 26 Jakarta, yaitu di jalan balai pustaka baru I rawamangun, Jakarta Timur. Disekolahku terdapat beberapa jurusan, yaitu jurusan teknik gambar bangunan, teknik elektronika komunikasi, teknik mesin perkakas, dan teknik otomotif. Disekolahku mempunyai program sekolah 4 tahun, yaitu 3 tahun kegiatan belajar mengajar seperti biasa, di tingkat 3 mengikuti ujian nasional, uas dan ujian praktek. Di tahun berikutnya adalah program pendidikan sistem ganda (PSG) selama satu tahun, saya dan teman- teman saya biasa menyebutnya dengan istilah “PKL” (praktek kerja lapangan). Program pendidikan sistem ganda ini bertujuan untuk mempersiapkan siswa- siswi SMK agar siap kerja didalam dunia industri atau untuk melatih keterampilan siswa- siswi SMK. Sebelum pkl dimulai, diadakan program pembekalan atau pelatihan bagi para siswa.

Program pembekalan tersebut diadakan di daerah jawa barat, yaitu di desa tugu. Desa yang menurut saya sangat menyenangkan, pemandangannya sangat indah dan terdapat sawah dan pepohonan di sekitarnya. Sebelum berangkat, saya dan teman- teman saya berkumpul di sekolah dengan membawa peralatan untuk menginap esok harinya. Setengah jam kemudian, kami pun berangkat menggunakan bis yang berfasilitas AC alami. Saya dan teman- teman pun sampai di tempat tujuan. Sesampainya disana, saya dan teman- teman saya diberi pengarahan , lalu dibagi menjadi beberapa kelompok, 1 kelompok adalah 3 orang siswa/ siswi. Pada saat itu kelompok saya adalah nuzul dan athoillah. Dan kami pun mendapat tugas dari guru pembimbing kami untuk melakukan survey tentang perkembangan teknologi atau internet di desa tugu tersebut. Dengan membawa peralatan seadanya, yaitu 1 buah buku tulis dan pulpen, saya dan teman saya pun berangkat untuk mencari informasi dari warga sekitar. Mencari dan mencari, saya dan teman saya melewati gang- gang kecil nan sempit, kemudian sorot mata kami tertuju ke sebuah rumah yang berada di ujung jalan. Salah satu teman saya mengetuk pintu dan saya mengucapkan salam. Tidak lama kemudian datanglah seorang wanita membukakan pintu kami, lalu ia membalas salam dari saya dan bertanya “ada perlu apa ya?” Teman saya pun menjawab “kami dari SMK Negeri 26 Jakarta, apakah kami boleh bertanya sesuatu tentang perkembangan teknologi di desa ini?” dengan ramahnya wanita itu menjawab, “oh ya silahkan masuk dan silahkan duduk, tunggu sebentar ya”. Lima menit kemudian, datanglah seorang bapak dengan mengenakan baju dinas berwarna cokelat. Saya dan teman saya memperkenalkan diri, lalu tiba- tiba guru pembimbing saya datang beserta kameramen dokumentasi dari sekolah saya. Maka guru saya lah yang menjelaskan maksud kedatangan kami. Guru saya mengatakan, bahwa rumah ini adalah rumah ketua rt di desa ini, saya dan teman saya terkejut, alangkah kebetulan sekali, rumah yang kami kunjungi adalah rumah dari ketua rt di desa tersebut. Setelah itu, kami pun mengajukan beberapa pertanyaan dengan kamera menyorot kearah kami, “seperti reporter saja”, ujar teman saya.

Dari hasil tanya- jawab kepada ketua rt setempat, bahwa di desa tugu ini sangatlah berbeda dengan keadaan di Jakarta pada umumnya. Dijakarta, internet ada dimana- mana, yaitu di rumah, di sekolah, di kantor, dan warnet terdapat di setiap gang maupun di setiap jalan. Sedangkan di desa, fasilitas internet sangatlah sulit, tidak mudah untuk menggunakan fasilitas internet, karena jaringan di desa tugu ini sangatlah terbatas. Keterbatasan jaringan ini diakibatkan karena tidak adanya BTS di desa tersebut. Karena lahan di sekitar desa sebagian besar digunakan untuk bercocok tanam, berternak, dan aliran sungai. Sulit untuk memasang BTS di daerah tersebut, sehingga jaringan di daerah tersebut sangatlah terbatas. Fasilitas telepon umum atau warnet, fasilitas warnet atau warung internet harus ditempuh sekitar 3 km dari desa tersebut. Fasilitas penggunaan komputer jarang digunakan oleh masyarakat setempat. Karena mayoritas pekerjaan masyarakat setempat adalah bertani dan berternak. Mereka jarang menggunakan teknologi komputer. Fasilitas sinyal telepon juga sangat sulit didapat, terkadang ada sinyal, terkadang hilang. Maka di daerah tersebut jarang orang memakai fasilitas handphone atau telepon genggam. Kalau ada keperluan penting untuk menghubungi keluarga atau sanak saudara barulah mereka pergi ke wartel yang jaraknya lumayan jauh dari rumah mereka.

Setelah mewawancarai ketua rt setempat, kami pun mencari warga yang lainnya, untuk mendapatkan informasi yang sebanyak- banyaknya dan sebagai bahan perbandingan. Setelah keluar dari gang tempat ketua rt yang saya dan teman saya wawancarai, salah satu teman saya pun mempunyai inisiatif untuk mewawancarai seseorang yang sedang duduk di sebuah bilik yang berada di atas sawah tadah hujan. Kami pun menyeberangi sungai melewati jembatan bambu yang menurut saya agak licin, kemudian kami menanjak keatas melewati bebatuan licin dan tanah yang agak becek. Perasaanku sangat takut ketika itu, karena terlintas akan terpeleset dan jatuh ke sungai, tetapi kemudian teman saya membantu saya untuk naik keatas. Sesudah sampai diatas, saya berucap syukur alhamdulilah kepada allah SWT atas perlindungan yang telah diberikan kepada saya. Kami pun menghampiri seseorang bapak yang sudah berumur duduk beristirahat di bilik bambu. Dan kami pun menanyakan hal yang sama dengan apa yang kami tanyakan kepada ketua rt sebelumnya, bapak itu bilang, ia tidak tahu apa itu internet dan komputer, “yang saya tahu adalah cangkul, pupuk, dan alat- alat pertanian lainnya, mungkin anak saya yang tahu tentang internet dan komputer, karena sepertinya di sekolah anak saya terdapat internet dan komputer. Saya sudah tua, bagi saya adalah hidup sederhana sudah cukup, tidak perlu ada internet ataupun komputer, yang penting saya dapat menghidupi keluarga saya, dan yang saya harapkan adalah anak saya bisa lebih pintar dari saya agar ia dapat mencukupi keluarganya dengan yang lebih baik”.

Begitulah yang saya dan teman saya dapatkan dari hasil survey dan wawancara kami kepada warga desa tugu tersebut. Kehidupan di desa dengan di kota sangatlah berbeda jauh. Di kota kehidupannya sangat glamour dan keras, sedangkan di desa kehidupannya sangatlah sederhana. Kesamaannya adalah bahwa mereka menginginkan sesuatu yang lebih baik, cukup, sukses dan bahagia. Dan itu memang naluri setiap manusia pada umumnya.