Di tahun 2008, tepat di bulan november umurku 17 tahun. Yaitu masa dimana aku menginjak dewasa (ABG). Yang menurut seorang ahli sejarah, umur 15- 18 tahun adalah masa awal remaja madya. Menurut undang- undang, umur 17 tahun seorang warga negara sudah diberikan hak pilih untuk mengikuti pemilu.

Di bulan April tahun 2009 kemarin, adalah moment untuk pemilu capres dan cawapres Republik Indonesia periode 2009- 2014. Saya selaku warga negara Indonesia, ikut berpartisipasi dalam pemilu capres dan cawapres tersebut. Walaupun banyak orang yang netral (tidak memilih), menurut saya hak suara untuk memilih sangatlah penting dan wajib dilakukan sebagai bagian dari warga negara Indonesia yang berperilaku baik, bertanggung jawab, dan ikut andil dalam proses pemilihan pemimpin di negara yang saya tempati.

Pada tahun 2004, pernah dilakukan pemilu dengan sistem mencoblos, sedangkan pada tahun 2009, pemilu dilakukan dengan sistem contreng. Dalam melaksanakan pemilu, harus berdasarkan pada asas pemilu, yaitu asas pemilu tahun 1999. Isinya adalah Luber dan Jurdil. Luber artinya Langsung, umum, bebas dan rahasia serta Jurdil artinya Jujur dan adil.

Syarat- syarat ikut pemilu adalah
1. Warga negara Indonesia
2. Berusia 17 tahun atau sudah berkeluarga
3. Sehat jasmani dan rohani

Sebelum saya mengikuti pemilu, ada beberapa proses yang harus dilakukan, yaitu:
1. Pendataan (warga didaftarkan oleh ketua rt untuk diusulkan sebagai calon pemilih dalam pemilu)
2. Keluar daftar nama calon pemilih yang dikeluarkan oleh KPU, lalu ditempelkan di kelurahan
setempat, kemudian dari kelurahan dikirim ke rt setempat dan TPS yang ditunjuk
3. Ketua rt memberikan kartu pemilu kepada saya dan memberitahukan TPS yang harus saya datangi
esok harinya untuk melakukan pemilu.

Hari yang dinanti pun datang, sekitar pukul 09.00 WIB, saya dengan ibu saya berangkat ke TPS terdekat (TPS yang sudah ditentukan) sekitar 2km dari rumah. Setelah sampai disana, saya dan ibu saya menyerahkan kartu pemilu kepada petugas TPS. Setelah itu saya dan ibu menunggu untuk dipanggil oleh panitia pemilu. 15 menit kemudian, nama ibu saya dipanggil, lalu diberikan kertas pemilu yang berisi 3 pilihan gambar dan nomor dari masing- masing calon presiden dan calon wakil presiden Republik Indonesia. Setelah itu ibu saya pergi ke bilik yang kosong untuk melakukan pencontrengan. Perasaan tegang dan senang meliputi perasaan saya, karena baru pertama kali saya mengikuti pemilu. Tidak lama setelah ibu saya dipanggil, petugas pemilu memanggil nama saya, lalu sama seperti ibu saya, saya diberikan kertas pemilu yang berisi 3 pilihan capres dan cawapres Republik Indonesia untuk saya pilih sesuai dengan hati nurani. Kemudian saya pergi ke bilik kosong untuk melakukan pencontrengan pada nomor atau gambar capres dan cawapres. Setelah selesai, saya lipat lembaran kertas pemilu tersebut, lalu saya masukan ke dalam kotak pemilu (seperti memasukan uang ke dalam celengan).

Setelah selesai mencontreng, sebagai tanda bahwa saya telah melakukan pemilu, maka salah satu jari tangan saya dicelupkan ke dalam tinta yang telah dipersiapkan oleh panitia pemilu sebelumnya. Begitu selesai, saya dan ibu pulang kerumah dan untuk selanjutnya saya mengikuti perkembangan pemilu di televisi maupun di surat kabar.