Menurut sistem penggolongan administrasi, “kota” dapat dikatakan sebagai pusat “pendominasian” yang secara bertingkat diturunkan ke bawah, melalui sistem administrasi negara. Maka “kota- kota” secara bertingkat merupakan suatu jaringan, di mana kota sebagai pusat jaringan dan desa- desa di pinggiran menjadi pusat pendominasian. Melihat kenyataan ini jelas bahwa kota kedudukannya di atas, sedangkan desa ada di bawah. Kedudukan yang tidak seimbang ini tercermin dalam hubungan struktural- fungsional antara desa dan kota, yaitu desa merupakan penghasil bahan makanan, bahan mentah, penyuplai tenaga kasar yang diperlukan bagi warga kota, sedangkan kota merupakan “pelindung” bagi warga desa, sebagai tempat orientasi bagi kemajuan teknologi dan peradaban, pusat- pusat perubahan dan pembaharuan kebudayaan yang dapat dijadikan orientasi warga desa dalam perbaikan hidupnya.

Perkembangan peradaban biasanya diidentifikasi dengan perkembangan kota- kota besar, dan petani di desa sebagai pencocok tanam yang mempunyai hubungan tetap dengan kota. Perjalanan evolusi kebudayaan sering dimulai dari pusat- pusat khusus desa, yang nantinya menjadi kota besar. Desa pun tidak jarang dikunjungi secara berkala oleh penziarah kota, apabila di desa itu terdapat tokoh agama termasyhur. Biasanya ingin mendapatkan bekal batin dan sekaligus tempat “mengadu”. Tetapi yang jelas kehadiran unsur kota ke desa akan mempengaruhi pola suatu masyarakat. Bahkan adanya masyarakat pedesaan sangat penting artinya bagi proses pertumbuhan kota- kota. Relasi ekonomi terjadi antara desa dengan kota melalui beberapa jalan. Suatu relasi yang tetap, misalnya diserahkannya pajak dalam bentuk hasil bumi.

Relasi kota dengan desa juga dapat terorganisasi melalui pasar. Di pasar itu terjadi tukar- menukar bahan yang menjadi produksi khusus desa- desa di pasar daerah. Dalam sistem pasar yang besar, desa- desa merupakan seksi- seksi yang disebut pasar “jaringan”, yang menghubungkan desa dengan daerah luar yang lebih luas. Dalam bidang politik nampak ciri- ciri sejenis, di satu pihak otonomi yang agak besar, di lain pihak ada ketergantungan terhadap “dunia” luar.

Dalam hal keamanan, desa mempunyai otonomi luas untuk urusan dalam, kalau terpaksa baru minta bantuan dari “kota”. Di bidang kebudayaan dan agama, orang kota terpelajar, spesialis- spesialis, sering mengabadikannya dengan menyusun suatu sistem, dan menjabarkannya. Jadi ada hubungan timbal- balik antara tradisi di kota dan di desa. Dalam hal ini dapat dikatakan universalisasi, ada penerimaan anasir dari tradisi kecil ke dalam tradisi besar, sehingga dari tradisi lokal diangkat menjadi berlaku secara umum untuk seluruh daerah kebudayaan. Sebaliknya proses penyaluran anasir dari tradisi besar ke tradisi kecil disebut “parokialisasi”, karena anasir itu diterapkan dan disesuaikan dengan tradisi lokal sehingga berlaku lagi secara umum. Pengertian tradisi besar dan kecil menurut Redfield adalah tradisi besar dari sejumlah kecil orang yang banyak berpikir dan tradisi kecil dari orang banyak yang kurang berpikir.

Antara kota dan desa pada umumnya kelihatan ada perbedaan sosial dan kebudayaan yang besar. Bagi orang desa, kota itu dianggap berbahaya, harus waspada, banyak pengetahuan dan mempunyai daya tarik, mulai dari tempat hiburan sampai sebagai tempat untuk mencari pekerjaan. Kota adalah pusat kekuasaan, kekayaan dan sekaligus pengetahuan. Sebaliknya, desa menurut pikiran orang kota juga bermacam- macam. Dikatakan mereka bodoh, kurang pengetahuan, membiarkan dirinya disalahgunakan. Tetapi, desa juga memiliki kelebihan, yaitu kebudayaan asli dan menghayati kehidupan yang baik dan sederhana. Karena adanya perbedaan sosial dan kultural, perlu tokoh- tokoh perantara untuk menjembataninya. Misalnya di bidang politik adalah kepala desa, di bidang ekonomi adalah para pedagang, tengkulak, lintah darat, tuan tanah, serta di bidang budaya dan agama adalah para ulama, kyai, pendeta, ahli seni, sastra dan sebagainya.

Masyarakat pedesaan dapat dipahami apabila dihubungkan dengan keterpaduan menyeluruh yang lebih besar, yaitu perkotaan. Kategori masyarakat desa timbul bila sudah terintegrasi menjadi bawahan penguasa dari luar sistem sosialnya (kota). Berkuasanya penguasa dari luar itulah yang membedakan masyarakat pedesaan dengan masyarakat lain. Hubungan masyarakat pedesaan dengan perkotaan merupakan hubungan periferal. Kedudukan desa merupakan bagian dari peradaban, yang menyuplai makanan untuk mendukung kelas penguasa politik dan keagamaan, serta kaum terpelajar dari suatu tradisi besar.