Melalui proses sosialisasi, seseorang pemuda akan terwarnai cara berpikir dan kebiasaan- kebiasaan hidupnya. Dengan proses sosialisasi, seseorang menjadi tahu bagaimana harus bertingkah laku di tengah- tengah masyarakat dan lingkungan budayanya.
Sosialisasi diartikan sebagai proses yang membantu individu melalui belajar dan menyesuaikan diri, bagaimana cara hidup dan bagaimana cara berpikir kelompoknya agar dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya (Charlatte Buchler, 1968). Sosialisasi merupakan salah satu proses belajar kebudayaan, dari anggota masyarakat dan hubungannya dengan sistem sosial. Dalam proses tersebut, seorang individu dari masa anak- anak hingga dewasa belajar pola- pola tindakan dalam interaksi dengan segala macam individu di sekelilingnya, yang menduduki beraneka macam peranan sosial yang mungkin ada dalam kehidupan sehari- hari.

Dalam sosialisasi, perkembangan individu- individu akan selalu tampak karena mereka dapat menerapkan pengalaman- pengalaman baru dari perkembangan- perkembangan yang ada di sekelilingnya. Setiap individu dalam masyarakat yang berbeda, mengalami proses sosialisasi yang berbeda pula karena proses sosialisasi banyak ditentukan oleh susunan kebudayaan dan lingkungan sosial yang bersangkutan. Sosialisasi dititikberatkan pada soal individu dalam kelompok melalui pendidikan dan perkembangannya. Oleh karena itu proses sosialisasi melahirkan kedirian dan kepribadian seseorang. Kedirian sebagai suatu produk sosialisasi, merupakan kesadaran terhadap diri sendiri dan memandang adanya pribadi orang lain di luar dirinya. Kesadaran terhadap diri sendiri membuat timbulnya sebutan “aku” atau “saya”, sebagai kedirian subjektif yang sulit dipelajari. Asal mula timbulnya kedirian, yaitu:
• Dalam proses sosialisasi mendapat bayangan dirinya, yaitu setelah mamperhatikan cara orang lain memandang dan memperlakukan dirinya. Misalnya ia tidak disukai, tidak berharga, tidak dapat dipercaya atau sebaliknya, ia disayangi, baik budi, dan dapat dipercaya.
• Dalam proses sosialisasi juga membentuk kedirian yang ideal. Orang bersangkutan mengetahui dengan pasti apa- apa yang harus ia lakukan agar memperoleh penghargaan dari orang lain. Bentuk kedirian ini berguna dalam meningkatkan ketaatan anak terhadap norma- norma sosial. Mekanisme kedirian itu adalah identifikasi, yaitu kemampuan untuk tidak saja menilai bagaimana tampang dan tingkah laku orang lain, tetapi juga membuat suatu angan- angan ideal tentang orang lain yang patut ditiru. Maka anak atau usia muda merupakan imitator yang pandai. Identifikasi sebenarnya merupakan proses normal, bagian dari perkembangan menuju dewasa, dan merupakan cara pewarisan kebudayaan dari generasi ke generasi.

Teori dimensi kedirian menurut teori Freud adalah tentang Id (keinginan pada diri seseorang), Ego (akal pikiran), dan superego (kesadaran sosial). Sedangkan teori dimensi kedirian dari Cooley disebut cermin diri, yaitu tingkah laku orang seolah- olah merupakan cermin bagi imajinasi pribadi tertentu. Dalam hal ini ada 3 elemen atau langkah, yaitu:

• Imajinasi tentang bagaimana seseorang tampil di hadapan pihak lainnya.
• Imajinasi tentang bagaimana pihak lain menilai penampilan tersebut
• Dan reaksi- reaksi emosional terhadap pendirian pihak lain.

Teori dimensi kedirian lainnya yaitu menurut George Mead, yang membagi kedirian menjadi dua dimensi, yaitu:

• Dimensi aku sebagai objek, bagian dari diri yang mempertimbangkan atau memperhitungkan sikap- sikap atau pendapat- pendapat orang lain. Cirinya pasif dan konvensional dari kedirian seseorang.
• Dimensi aku sebagai subjek, bagian yang aktif dan kreatif berbuat mempengaruhi dan bukannya dipengaruhi oleh masyarakat.

Kepribadian diartikan organisasi dinamis dari sistem psikofisis dalam individu yang turut menentukan cara- cara yang unik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan (Gordon W. Allport, 1937). Dan pendapat lain yang lebih sederhana adalah dari Cuber (1962), yaitu kepribadian adalah gabungan keseluruhan dari ciri- ciri atau sifat yang tampak dan dapat dilihat pada seseorang.

Ada empat faktor penting yang menentukan kepribadian seseorang, yaitu:

a) Keturunan (warisan biologis)
Manusia dilahirkan dengan suatu struktur anatomi, fisiologi, dan urat sarafnya, yang menentukan batas- batas tertentu terhadap tingkah laku sosialnya. Batas- batas tersebut berpengaruh terhadap perkembangan sosialnya, artinya penting di dalam proses sosialisasi.

b) Lingkungan tempat
Lingkungan tempat manusia hidup terdiri dari lokasi, iklim, topografi dan sumber- sumber alam. Kesemua faktor ini mempengaruhi aktivitas manusia.

c) Tempat fisik kehidupan sosial
Semua manusia tumbuh dewasa bersama- sama dengan bertambahnya pengalaman di dalam satu atau lain tempat geografi, dengan banyak dan sedikit, ada atau tidak ada aneka ragam tempat fisik seperti agraris dan non-agraris. Dengan demikian harus mengembangkan adat- istiadat, cara hidup, dan ciri kepribadian yang cocok dalam kelangsungan hidupnya.

d) Lingkungan sosial dan budaya
Dalam lingkungan sosial dan budaya tidak ada dua orang individu pun yang hasil bentukan sosialisasinya sama, sebab banyak perbedaan aspek sosial dan budaya seperti dalam ekspresi kebudayaan, pengetahuan atau keterampilan, pengawasan sosial, standar hidup, kontak dari kelompok tertentu, dan mobilitas sosial. Lingkungan sosial mempengaruhi dalam proses sosialisasi. Perbedaan lingkungan sosial dan budaya, seperti dalam hal orientasinya, menentukan pribadi seseorang.

Beberapa faktor yang mempengaruhi kepribadian tersebut bersatu padu, sampai pada satu tingkat tertentu ditentukan oleh pengeluaran- pengeluaran khusus masing- masing individu. Itulah yang membentuk kepribadian.

Sosialisasi pemuda dimulai dari umur 10 tahun dalam lingkungan keluarga, tetangga, sekolah, dan jalur organisasi formal atau informasi untuk berperan sebagai makhluk sosial, makhluk individual bagi pemuda.

Faktor lingkungan bagi pemuda dalam proses sosialisasi memegang peranan penting, sebab proses sosialisasi pemuda terus berlanjut dengan segala daya imitasi dan identitasnya. Pengalaman demi pengalaman akan diperoleh pemuda dari lingkungan di sekelilingnya. Lebih- lebih pada masa peralihan atau transisi dari masa muda menjelang dewasa, ketika sering terjadi konflik nilai, wadah pembinanya harus lebih fleksible, mampu dan mengerti dalam membina pemuda tanpa harus mematikan jiwa mudanya yang penuh dengan semangat hidup.

Karena dalam sosialisasi pengintegrasian individu dalam kelompok lebih berkembang, maka lingkungan atau jalur organisasi fungsional harus memberi teladan dalam pola- pola tindakannya. Penuh kreativitas disertai pelestarian dan penanaman asas- asas moral, etika, bersusila, serta keyakinan agama, dan mampu dijadikan sebagai barometer kehidupan bangsa. Pembinaan pemuda yang ada dan sedang berjalan dilakukan melalui tiga jalur, yaitu:

1. Jalur pendidikan mulai dari pendidikan dalam keluarga, sekolah, taman kanak- kanak, sampai perguruan tinggi
2. Jalur organisasi fungsional pemuda mulai dari KNPI, Pramuka, dan organisasi lainnya
3. Jalur media massa, dengan cara menyajikan artikel- artikel yang mengandung nilai- nilai budaya, bangsa, dan agama.

Dari uraian diatas, dapat dikatakan bahwa lembaga- lembaga masyarakat pun dituntut peranannya untuk menampung aspirasi pemuda, dan senantiasa siap menghadapi dinamika pemuda. Dan pemuda dan sosialisasi merupakan suatu permasalahan, yang perlu diperhatikan dan dibahas secara mendalam disertai pemecahannya sehingga tercapai peranan pemuda yang digariskan dalam GBHN.