Persekutuan hidup yang paling kecil dimulai saat manusia primitif mencari makan, yaitu dengan berburu, sebagai migrator, nomad berjumlah 10- 300 orang. Kenyataan ini disesuaikan dengan persediaan makanannya. Berkembangnya cara bertani menyebabkan lahirnya suatu persekutuan hidup permanen pada suatu tempat, kampung, babakan, dengan sifat yang khas, yaitu: kekeluargaan, adanya kolektivitas dalam pembagian tanah dan pengerjaannya, ada kesatuan ekonomis yang memenuhi kebutuhan sendiri. Persekutuan hidup ini akan berubah dengan berkembangnya sistem kapitalisme dan masyarakat industri, artinya dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Koentjaraningrat, suatu masyarakat desa menjadi suatu persekutuan hidup dan kesatuan sosial didasarkan atas dua macam prinsip: prinsip hubungan kekerabatan (geneologis), dan prinsip hubungan tinggal dekat/ teritorial. Prinsip ini tidak lengkap apabila yang mengikat adanya aktivitas tidak diikutsertakan, yaitu: tujuan khusus yang ditentukan oleh faktor ekologis, dan prinsip yang datang dari Allah SWT oleh aturan dan undang- undang.

Masyarakat pedesaan kehidupannya berbeda dengan masyarakat perkotaan. Perbedaan- perbedaan ini berasal dari adanya perbedaan yang mendasar dari keadaan lingkungan, yang mengakibatkan adanya dampak terhadap personalitas dan segi- segi kehidupan. Kesan populer masyarakat perkotaan terhadap masyarakat pedesaan adalah bodoh, lambat dalam berpikir dan bertindak, serta mudah tertipu dan sebagainya. Kesan ini disebabkan karena masyarakat perkotaan mengamatinya hanya sepintas, tidak banyak tahu, dan kurang pengalaman dengan keadaan lingkungan pedesaan. Masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan memiliki ciri sendiri- sendiri. Ciri- ciri masyarakat adalah adanya sejumlah orang yang tinggal dalam suatu daerah tertentu, adanya sistem hubungan, ikatan atas dasar kepentingan bersama, tujuan, bekerja sama, rasa solidaritas, adanya norma- norma dan kebudayaan.

Untuk menentukan suatu komunitas apakah termasuk masyarakat pedesaan atau masyarakat perkotaan, dari segi kuantitatif sulit dibedakan karena adanya hubungan antara konsentrasi penduduk dengan gejala social dan perbedaannya bersifat gradual. Lebih sesuai apabila menentukan perbedaannya dengan sifat kualitas atau kriteria kualitatif, di mana struktur, fungsi, adat- istiadat, serta corak kehidupannya dipengaruhi oleh proses penyesuaian ekologi masyarakat.

Perbedaan atau ciri- ciri dari masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan adalah
1. Lingkungan umum dan orientasi terhadap alam
Masyarakat pedesaan berhubungan kuat dengan alam, disebabkan oleh lokasi geografinya di daerah desa. Mereka sulit mengontrol kenyataan alam yang dihadapinya, padahal bagi petani realitas alam ini sangat menunjang kehidupannya. Penduduk yang tinggal di desa akan banyak ditentukan oleh kepercayaan- kepercayaan dan hukum- hukum alam, seperti dalam pola berpikir dan falsafah hidupnya. Tentu akan berbeda dengan penduduk yang tinggal di kota, yang kehidupannya bebas dari realitas alam.

2. Pekerjaan atau Mata Pencaharian
Pada umumnya atau kebanyakan mata pencaharian daerah pedesaan adalah bertani. Tetapi mata pencaharian berdagang merupakan pekerjaan sekunder dari pekerjaan yang non- pertanian. Sebab beberapa daerah pertanian tidak lepas dari kegiatan usaha atau industri, demikian pula kegiatan mata pencaharian keluarga untuk tujuan hidupnya lebih luas lagi. Di masyarakat kota mata pencaharian cenderung menjadi terspesialisasi dan spesialisasi itu sendiri dapat dikembangkan, mungkin menjadi manajer suatu perusahaan, ketua atau pimpinan dalam suatu birokrasi. Dan sebaliknya seorang petani harus kompeten dalam bermacam- macam keahlian seperti keahlian memelihara tanah, bercocok tanam, pemasaran dan sebagainya.

3. Ukuran komunitas
Komunitas pedesaan biasanya lebih kecil dari komunitas perkotaan. Tanah pertanian luasnya bervariasi. Maka, tipe usaha bertani dan berternak bergantung kepada luas tanah yang digunakan, sesuai dengan kemampuannya. Oleh sebab itu, komunitas pedesaan lebih kecil daripada komunitas perkotaan.

4. Kepadatan penduduk
Penduduk desa kepadatannya lebih rendah bila dibandingkan dengan kepadatan penduduk kota. Kepadatan penduduk dari suatu komunitas, kenaikannya berhubungan dengan klasifikasi dari kota itu sendiri. Contohnya dalam perubahan- perubahan permukiman, dari penghuni satu keluarga menjadi pembangunan multikeluarga dengan flat dan apartemen seperti yang terjadi di kota.

5. Homogenitas dan heterogenitas
Homogenitas atau persamaan dalam ciri- ciri sosial, psikologi, bahasa, kepercayaan, adat- istiadat, dan perilaku sering nampak pada masyarakat pedesaan bila dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Kampung- kampung bagian dari suatu masyarakat desa mengenai minat dan pekerjaannya hampir sama, sehingga kontak tatap muka lebih sering. Di kota sebaliknya, penduduknya heterogen, terdiri dari orang- orang dengan macam- macam subkultur dan kesenangan, kebudayaan, mata pencaharian. Sebagai contoh, dalam perilaku dan juga bahasa, penduduk di kota lebih heterogen. Hal ini karena daya tarik dari mata pencaharian, pendidikan, komunikasi, dan transportasi, menyebabkan kota menarik orang- orang dari berbagai kelompok etnis untuk berkumpul di kota.

6. Diferensiasi sosial
Keadaan heterogen dari penduduk kota berindikasi pentingnya derajat yang tinggi di dalam diferensiasi sosial. Fasilitas kota, hal- hal yang berguna, pendidikan, rekreasi, agama, bisnis, dan fasilitas perumahan, menyebabkan terorganisasinya berbagai keperluan, adanya pembagian pekerjaan, dan adanya saling membutuhkan serta saling tergantung. Kenyataan ini bertentangan dengan bagian- bagian kehidupan di masyarakat pedesaan. Tingkat homogenitas alam ini cukup tinggi, dan relatif berdiri sendiri dengan derajat yang rendah daripada diferensiasi sosialnya.

7. Pelapisan sosial
Kelas sosial di dalam masyarakat sering Nampak dalam perwujudannya seperti “piramida sosial”, yaitu kelas- kelas yang tinggi berada pada posisi atas piramida, kelas menengah ada di antara kedua tingkat kelas ekstrem dari masyarakat. Beberapa perbedaan pelapisan sosial antara masyarakat pedesaan dan masyarakat kota adalah

• Pada masyarakat kota aspek kehidupan pekerjaan, ekonomi, atau sosial- politik lebih banyak sistem pelapisannya dibandingkan dengan di desa.
• Pada masyarakat desa kesenjangan antara kelas ekstrem dalam piramida sosial tidak terlalu besar, sedangkan pada masyarakat kota jarak antara kelas ekstrem yang kaya dan miskin cukup besar. Sedangkan di daerah pedesaan tidak terlalu besar jaraknya, tingkatnya hanya kaya dan miskin saja.
• Pada umumnya, masyarakat pedesaan cenderung berada pada kelas menengah menurut ukuran desa, sebab orang kaya dan orang miskin sering bergeser ke kota. Kepindahan orang miskin ini disebabkan karena tidak mempunyai tanah, mencari pekerjaan di kota, atau ikut transmigrasi.
• Di Indonesia, khususnya di Bali, masyarakat terbagi kedalam empat lapisan, yaitu Brahmana, Satria, Vesia dan Sudra. Ketiga lapisan yang pertama menjadi satu dengan istilah triwangsa.

8. Interaksi sosial
Tipe interaksi sosial di desa dan di kota perbedaannya sangat kontras, baik aspek kualitasnya maupun kuantitasnya. Perbedaan yang penting dalam interaksi sosial di daerah pedesaan dan perkotaan, di antaranya: Masyarakat pedesaan lebih sedikit jumlahnya dan tingkat mobilitas sosialnya rendah. Dan di kota kontak sosial lebih tersebar melalui perdagangan, perusahaan, industri, pemerintahan, pendidikan, agama, dan sebagainya. Sedangkan di desa daerah jangkauan kontak sosialnya terbatas dan sempit.

9. Pengawasan sosial
Tekanan sosial oleh masyarakat di pedesaan lebih kuat karena kontaknya yang bersifat pribadi, ramah- tamah, dan keadaan masyarakatnya yang homogen. Penyesuaian terhadap norma- norma sosial lebih tinggi dengan tekanan sosial yang informal yang nantinya berarti sebagai pengawasan sosial. Di kota, pengawasan sosial lebih bersifat formal, pribadi, dan peraturan lebih menyangkut masalah pelanggaran.

10. Pola kepemimpinan
Menentukan kepemimpinan di daerah pedesaan cenderung banyak ditentukan oleh kualitas pribadi dari individu dibandingkan dengan di kota. Misalnya karena kejujuran, jiwa pengorbanannya, pengalamannya, dan kriteria keturunan juga menentukan kepemimpinan di pedesaan.

11. Standar kehidupan
Di kota, ada kesanggupan dalam menyediakan kebutuhan seperti berbagai alat rumah tangga, komputer, televisi, fasilitas agama, dan sebagainya, sedangkan di desa tidak demikian, orientasi hidup dan pola berpikir masyarakat sangat sederhana.

12. Kesetiakawanan sosial
Pada masyarakat pedesaan kepaduan dan kesatuan merupakan akibat dari sifat- sifat yang sama, persamaan dalam pengalaman, tujuan yang sama, di mana bagian dari masyarakat pedesaan hubungan pribadinya bersifat informal dan tidak bersifat kontrak sosial (perjanjian). Sedangkan kesatuan dan kepaduan di daerah perkotaan berbeda, dasarnya ketidaksamaan, perbedaan pembagian tenaga kerja , saling tergantung, tidak bersifat pribadi, macam- macam perjanjian, dan hubungannya lebih bersifat formal.

13. Nilai dan sistem nilai
Nilai dan sistem nilai di desa dengan di kota berbeda. Pada masyarakat pedesaan, mengenai nilai- nilai keluarga, pola bergaul, dan mencari jodoh, kepala keluarga masih berperan. Nilai agama masih dipegang kuat dalam bentuk pendidikan agama (madrasah). Bentuk- bentuk ritual agama yang berhubungan dengan kehidupan atau proses mencapai dewasanya manusia, selalu diikuti dengan upacara- upacara. Nilai- nilai pendidikan belum merupakan orientasi bernilai penuh bagi penduduk desa, cukup dengan baca- tulis dan pendidikan agama. Dan masih banyak lagi nilai lainnya yang sangat berbeda dengan masyarakat kota.