Teori mengenai hukum penawaran yang berlaku pada para produsen sebagai pelaku ekonomi pasar menyatakan bahwa, jika harga barang per unit mengalami peningkatan, akan berpengaruh pada jumlah barang yang ditawarkan atau disediakan lebih banyak. Sebaliknya, jika harga jual barang per unit turun, dari semula produsen berpengaruh untuk mengurangi jumlah barang yang ditawarkan atau disediakan.

Saat harga barang per unit mengalami kenaikan akan dipersepsikan oleh para produsen hal itu terjadi sensitivitas pasar yang positif atau sentimen pasar positif, di mana berpengaruh pada kelancaran transaksi. Selain itu juga, dapat dipersepsikan oleh para produsen akan memberikan kontribusi pada tingkat keuntungan (profit) lebih besar, yaitu semakin banyak barang yang terjual semakin besar profit yang akan diperoleh.

Jadi secara sederhana hukum penawaran berbunyi, jika harga jual barang per unit naik, jumlah barang yang ditawarkan naik dan jika harga barang per unit turun, jumlah barang yang ditawarkan ikut turun. Sedangkan pengertian penawaran itu sendiri menurut Samuelson(1996) adalah sebagai jumlah barang yang diproduksi dan dijual oleh perusahaan.

Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi jumlah penawaran oleh produsen antara lain:
• Harga barang itu sendiri
• Harga barang lain sejenis
• Biaya produksi
• Teknologi
• Pajak
• Iklim
• Tujuan produksi

Kurva penawaran
Kurva penawaran (supply curve) menunjukkan jumlah barang yang produsen bersedia menjual dengan harga yang akan diterimanya di pasar, dengan mempertahankan setiap faktor yang memengaruhi jumlah penawaran agar tetap. Kurva penawaran merupakan hubungan antara jumlah penawaran dan harga. Persamaannya sebagai berikut: QS = QS(P)

Kurva penawaran ditandai dengan S.
Sumber vertical grafik tersebut menunjukkan harga suatu barang P, diukur dalam rupiah per unit, adalah harga yang diterima penjual untuk jumlah penawaran yang sudah ada.
Sumbu horizontal menunjukkan jumlah penawaran total Q diukur dalam jumlah unit per periode.

Pada gambar 2.1 diatas, dapat dilihat bahwa kemiringannya naik, yang berarti semakin tinggi harga barang, perusahaan akan semakin mampu bersedia memproduksi barang untuk dijual.
Gambar 2.1 juga menunjukkan peningkatan dari Q1 ke Q2. Bila biaya produksi turun, output akan naik terlepas dari berapa besar harga pasar. Jadi seluruh kurva penawaran bergeser ke kanan yang ditunjukkan dalam gambar sebagai pergeseran dari S ke S’.
Jumlah penawaran dapat bergantung kepada variabel- variabel lain di samping harga. Sebagai contoh, jumlah barang yang bersedia dijual produsen tidak hanya tergantung dari harga yang diterimanya, tetapi juga dari biaya produksi, termasuk upah, beban bunga dan harga bahan baku.

Secara matematis persamaan fungsi penawaran dirumuskan sebagai berikut:
Q=-a +bP
Q = Kuantitas(jumlah) barang yang ditawarkan
a = konstanta
b = koefisien garis (slope) atau tingkat sensitivitas harga terhadap barang yang ditawarkan
P = harga jual per unit.

Dari persamaan fungsi penawaran di atas digambarkan kurva penawaran sebagai berikut:

About these ads